
متني را كه در زير مشاهده ميكنيد ترجمه سخنراني «حماسه فرزندان معنوي امام اين بار در صعده يمن» است كه توسط استاد بزرگوار جناب آقاي هري سوپريانو به زبان اندونزيايي ترجمه شده است. به دليل طولاني بودن متن، ترجمه در سه بخش انجام ميشود كه هم اكنون بخش نخست آن را مشاهده ميكنيد.
Pertarungan murid-murid spiritual Imam Khomeini; kali ini berlangsung di Sa’dah Yaman (1)
Posisi geografis propinsi Sa’dah
Propinsi Sa’dah yang mencakup 15 kota di dalamnya terletak di utara Yaman dan berbatasan dengan Arab Saudi. Wilayah Sa’dah adalah pusat Mazhab Syiah Zaidiyah, lebih tepatnya mereka adalah pengikut Syiah Zaidiyah Hadawiyah Jarudiyah yang keyakinanya sangat dekat dengan Syiah duabelas Imam.
Jarak wilayah Sa’dah dari ibukota Yaman San'a kurang lebih 243km. Wilayah yang dihuni oleh 3,5% dari total masyarakat Yaman adalah wilayah pegunungan dan dilingkupi oleh barisan gunung-gunung. Posisi geografis itu jugalah yang menyebabkan kekuatan gerakan Al-Husi bertambah dua kali lipat dan sangat menguntungkan mereka dalam perang gerilya.
Wilayah ini juga adalah wilayah yang cukup bersejarah, banyak peninggalan-peninggalan bersejarah dan kuno yang masih tersisa di wilayah ini, sebagian dari peninggalan tersebut merupakan peninggalan dari masa berkuasanya Zaidiyah (sebuah kekuasaan yang berumur kurang lebih seribu tahun). Sebagian peninggalan yang lain merupakan peninggalan dari masa berkuasanya Usmani di Yaman. Kedua emperium ini mendirikan gedung-gedung tinggi dan membangun benteng-benteng kota yang indah dan bersejarah.
Propinsi Sa'dah memiliki iklim yang sedang dan curah hujan yang cukup. Yaman secara umum dinamakan "Yaman yang berbahagia" di masa lalu karena memiliki tanah yang subur dan udara yang sejuk. Berbeda dengan Arab Saudi yang wilayahnya adalah gurun pasir, Yaman adalah wilayah yang hijau. Propinsi Sa'dah juga kaya dengan barang tambang yang sangat bernilai, selain itu Yaman juga memiliki posisi strategis lain di karenakan wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi.
Wilayah ini selama berabad-abad merupakan rute perjalanan yang dilalui para haji yang berangkat ke Mekah dan Madinah, iapun merupakan pusat keluar masuknya barang dagangan ke Arab Saudi. Akan tetapi dengan kondisi yang serba strategis ini, masyarakat Sa'dah adalah masyarakat yang terbelakang dan miskin secara ekonomi.
Di sisi lain, walaupun semua orang tahu bahwa Presiden Yaman dilahirkan dari keluarga yang bermazhab Zaidiyah, tetapi pemerintahan Yaman adalah pemerintahan sekuler dan tidak memiliki landasan agama, bahkan mereka secara gencar melakukan berbagai penentangan terhadap agama Islam khususnya mazhab Syiah.
Yaman “lahan kosong politik” Arab Saudi
Ali Abdullah Soleh adalah seorang diktator yang dengan dukungan Arab Saudi berhasil memegang tampuk kekuasaan Yaman sejak 30 tahun yang lalu sampai hari ini, iapun berhasil menyingkirkan Mazhab Zaidiyah dari Yaman dan memberikan peluang bagi kelompok Salafi Takfiri untuk memperluas pengaruhnya di Yaman.
Ali Abdullah Soleh merubah Yaman sedemikian rupa sehingga ia menjadi sebuah lahan yang kosong bagi tumbuhnya politik dan mazhab yang dianut Arab Saudi. Dengan kata lain perang yang kita saksikan sekarang di Yaman, bukanlah perang antara pemerintah Yaman dengan orang-orang Syiah revolusioner pendukung Republik Islam Iran, akan tetapi perang ini adalah perang Arab Saudi yang diwakili oleh pemerintah Yaman melawan rakyatnya sendiri.
Dua hari setelah Arab Saudi secara resmi memasuki peperangan melawan gerakan Al-Husi di Yaman, presiden Ali Abdullah Soleh berkata: “perang yang sebenarnya sudah dimulai sejak dua hari yang lalu, dan perang lima tahun yang lalu hanyalah sebuah latihan militer biasa saja”.
Pada dasarnya masyarakat Yaman memandang Arab Saudi sebagai penjajah politik dan budaya mereka, karena Arab Saudi dalam beberapa dekade terakhir banyak mencampuri kehidupan politik Yaman.
Terbentuknya gerakan "Pemuda Mu'min"
Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang menyebabkan gerakan yang bernama Pemuda Mu'min (yang kemudian darinya tercipta gerakan Al-Husi) bisa terbentuk di wilayah ini.
Para pengikut mazhab Syiah Zaidiyah di Yaman jumlahnya mencapai 45% dari total seluruh penduduk Yaman. Ahlu Sunnah yang sebagian besarnya bermazhab Syafii jumlahnya 53% dari total penduduk Yaman dan sisanya adalah pengikut Syiah Ismailiyah.
Setelah kelompok wahabi Salafi yang dibantu oleh Arab Saudi memperoleh kekuatan dan berhasil mendapatkan posisi yang menguntungkan di Yaman, sebagian besar universitas dan sekolah-sekolah agama Zaidiyah menjadi tersingkirkan dan terpecah belah.
Para pengikut Ahlu Sunnah dan Syiah di Yaman sejak dulu selalu mencintai Ahlul Bayt dan kebiasaan serta tata cara ritual mereka sangat mirip dengan kebiasaan dan tata cara ritual para pengikut mazhab Syiah duabelas Imam. Akan tetapi sangat disesalkan mazhab Wahabi di negara ini sudah sangat kuat dan berusaha untuk merubah nilai-nilai budaya asli dan kesamaan-kesamaan yang dimiliki kedua mazhab tersebut.
Pada dasarnya masyarakat Yaman menganggap Islam yang mereka anut sekarang adalah warisan Imam Ali bin Abi Thalib as., karena beliau dan beberapa orang dari sahabat yang lain adalah orang-orang yang pertama kali diutus Nabi saw. untuk mendakwahkan Islam di Yaman.
Sebab-sebab terbentuknya organisasi Pemuda Mu'min
Sa'dah adalah pusat di mana organisasi Pemuda Mu’min berada, tetapi karena organisasi ini memiliki urgensitas yang kompleks dan strategis, maka ia terpaksa menjadi sebuah organisasi yang harus terpinggirkan dari wilayah tersebut. Pengasingan mazhab dan politik ini menyebabkan terjadinya kekosongan yang dalam di wilayah ini, dan Sa’dah berubah menjadi lahan bagi terciptanya perubahan yang besar dalam sejarah politik kekinian Yaman.
Para pemuda, kaum yang tercerahkan secara politik dan budaya yang ada di wilayah ini adalah sebuah kelompok yang seperti bara api, ketika satu saja percikan muncul, ia siap membakar apapun, dan kemudian dengan kekuatannya akan menciptakan sebuah revolusi yang konfrontatif, serta begerak mencapai tujuannya secara politik, mazhab dan keyakinan.
Di dalam lahan yang seperti inilah organisasi Pemuda Mu'min terbentuk. Figur-figur seperti "Badrudin Al-Husi" seorang pakar fikih dan mujtahid di dalam mazhab Zaidiyah dan beberapa teman serta murid-muridnya adalah orang-orang yang membentuk organisasi ini.
Setelah terbentuknya Pemuda Mu’min, para pemuda revolusioner yang tergabung di dalamnya memulai serangkaian aktifitas-aktifitas kebudayaan di Sa'dah. Mereka mengadakan kelas-kelas agama yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, acara-acara olahraga, pelatihan pidato dan debat, kunjungan di antara sesama anggota dan aktifitas-aktifitas lain. Aktifitas-aktifitas ini dilakukan di pusat-pusat budaya yang mereka dirikan sebelumnya.
Aktifitas-aktifitas ini pulalah yang menyebabkan banyak pemuda tertarik kepada organisasi ini. Selain pemuda-pemuda Sa'dah, turut bergabung pula pemuda-pemuda dari propinsi-propinsi lain dalam acara-acara budaya ini. Anggota pusat-pusat kebudayaan ini tercatat mencapai 18 ribu orang, selain melakukan aktifitas-aktifitasnya di Sa'dah, mereka juga memperluas kegiatannya di sembilan propinsi lain di Yaman. Dapat dikatakan bahwa salah satu penyebab berkembang dan meluasnya aktifitas-aktifitas ini adalah lahan yang tercipta karena semakin diperluasnya penyebaran faham Wahabi di tengah-tengah masyarakat Yaman.
Anda dapat melihat seorang seperti "Muqbil Al Wadii" salah seorang pembesar Salafi Takfiri Arab Saudi yang sebenarnya adalah orang Yaman asli dan setelah menuntut ilmu di Arab Saudi kembali ke Yaman dan mendirikan sebuah pusat penyebaran faham Wahabi di dekat Sa'dah.
Orang yang sama juga pernah menulis beberapa buku yang menentang dan bahkan mengkafirkan orang-orang Syiah. Salah satu judul bukunya menghina Imam Khomeini. Wajar jika dalam kondisi seperti ini, para pemuda menunjukkan reaksi yang berlawanan, dan orang-orang yang memiliki keyakinan yang teguh, siap melakukan konfrontasi untuk menghadapinya. Oleh karena itu, untuk menghadapi faham Wahabi di Yaman dibentuklah gerakan yang aktifitasnya meluas seperti sekarang ini. ( bersambung )
Teks pidato Hujjatul Islam Gharibreza Ketua Yayasan Dialog Keagamaan Qom Iran.
Penerjemah: Herry Supryono